oleh

Jembatan Nambangan Wonogiri Rp12,9 Miliar Sudah Bisa Dilewati Lur…

WONOGIRI — Jembatan Nambangan di Desa Nambangan, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, sudah bisa dilewati sejak beberapa hari terakhir. Namun, saat malam jembatan gelap sehingga pengendara harus berhati-hati saat melintas.

Seperti diberitakan sebelumnya, proyek pembangunan Jembatan Nambangan di Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, senilai Rp12.95 miliar diwarnai dua kejadian aneh. Dua kejadian aneh itu adalah empat tiang baja atau sheet pile yang tak bisa dicabut dengan crane. Selain itu pekerja yang tiba-tiba jatuh sakit saat hendak memangkas batang pohon di dekat lokasi proyek.

Pantauan Espos, Jumat (8/10/2021), proyek belum rampung sepenuhnya. Masih ada pekerjaan pembangunan trotoar di sisi Kabupaten Wonogiri. Tetapi, jembatan sudah bisa dilewati kendaraan dari arah Kabupaten Sukoharjo maupun dari arah Kabupaten Wonogiri.

Penutup jalan yang sebelumnya dipasang di kedua ujung jembatan sudah tidak ada. Plang pengalihan jalur yang terpasang di pertigaan Nambangan juga sudah tidak ada.

Jalan raya hingga jembatan sudah diberi markah jalan. Kendati demikian, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wonogiri belum membuat kebijakan pengaturan lalu lintas di kawasan jembatan tersebut.

Akses Antarkabupaten

Jembatan itu menghubungkan Kabupaten Wonogiri-Kabupaten Sukoharjo melalui Dusun Nambangan-Ngepos, Desa Nambangan dan Dusun Nguter, Desa Nguter, Kecamatan Nguter. Warga setempat menyebutnya jembatan lama Nambangan.

Jembatan kali pertama dibangun sejak zaman penjajahan Jepang. Jembatan pernah dibangun ulang sekitar 15 tahun lalu. Namun, jembatan tak bisa digunakan untuk simpangan mobil dari dua arah. Sampai akhirnya jembatan dibangun ulang pada September 2020 hingga September 2021.

Pembangunan menelan anggaran Rp12,952 miliar. Sayangnya, kontraktor tak bisa merampungkan proyek sesuai jadwal.

Warga sekitar, Gimin, menilai jembatan akan optimal jika difungsikan dua jalur. Lebar jalan sudah memadai untuk dilewati kendaraan roda empat dari arah berlawanan. Itu tak seperti kondisi jembatan sebelumnya yang tak bisa dilalui mobil dari arah berlawanan.

Namun, dia menyebut jalan perlu diberi rambu lalu lintas terlebih dahulu agar pengguna jalan waspada melewati jembatan. Sebab, jalan menuju jembatan dari arah Kabupaten Wonogiri menikung.

Rawan Kecelakaan

Lalu lintas dari arah Kabupaten Sukoharjo juga perlu diatur sedemikian rupa karena jalan menuju jembatan merupakan jalan raya Kota Solo-Kabupaten Wonogiri yang ramai. Pengguna jalan dari arah Kota Solo harus menyeberang jalan raya jika ingin melewati jembatan Nambangan.

“Pertigaan jalan raya menuju jembatan Nambangan di sisi Kabupaten Sukoharjo perlu diberi lampu rambu lalu lintas. Setiap Lebaran saya jadi sukarelawan pengatur jalan di pertigaan itu karena arus lalu lintas padat. Banyak kendaraan dari arah Solo yang menyeberang jalan raya mau melalui jembatan Nambangan. Di pertigaan itu sering terjadi kecelakaan,” kata Gimin.

Informasi yang dihimpun Espos, konstruksi jembatan lama adalah rangka baja Australia dengan bentang 105 meter dan lebar 4 meter termasuk trotoar (lebar efektif 3 meter). Karena itu jembatan hanya bisa dilalui mobil dari satu arah.

Sementara, kontruksi jembatan baru adalah gelagar beton prategang PCI GIR DER dengan bentang 100 meter dan lebar 8,8 meter termasuk trotoar (lebar efektif 6,5 meter). Jembatan itu aset Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wonogiri.

Namun, proyek dilaksanakan pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Terpisah, Bupati Wonogiri, Joko Sutopo, masih akan mengkaji dan membuat simulasi pengaturan lalu lintas terlebih dahulu.

Jalan menuju jembatan dari arah Kabupaten Sukoharjo dinilai warga sempit. Dari kajian dan simulasi akan diketahui jalan tersebut perlu dilebarkan atau tidak. Jika perlu dilebarkan Pemkab akan berkoordinasi dengan Pemkab Sukoharjo untuk membahasnya.(admin/Sumber: Solopos.com)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Utama