oleh

Bupati Wonogiri Harapkan Revitalisasi Waduk Gajah Mungkur Datangkan Kesejahteraan Masyarakat

Wonogiri – Bupati Wonogiri Joko Sutopo berharap, revitalisasi kawasan wisata Waduk Gajah Mungkur (WDM) yang berlokasi di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, dapat memberi banyak manfaat bagi masyarakat.

Sayangnya, saat ini hal itu belum terjadi. Padahal, menurut pria yang akrab disapa dengan Jekek itu, waduk yang dibangun pada 1976 dan selesai pada 1982 itu mengorbankan 67.000 warga pada 51 desa dan 6 kecamatan yang harus angkat kaki dari tanah kelahirannya.

Para warga rela bertransmigrasi ke pulau Sumatera dengan harapan waduk tersebut dapat memberi kemakmuran bagi masyarakat yang masih tinggal di daerah tersebut.

Namun kenyataannya, waduk seluas 8.800 hektare tersebut belum memberikan kontribusi optimal meski sudah mulai dioperasikan puluhan tahun.

Sebaliknya, manfaat keberadan WDM baru dimanfaatkan untuk mengendalikan banjir di wilayah Sukoharjo, Solo, Sragen, dan sebagian daerah di Jawa Timur.

“Kami hanya bisa memanfaatkan 7,5 hektare lahan wisata. Itu pun kami sewa. Sementara, air yang berada didalam waduk mengairi 23 hektare sawah di luar Wonogiri semuanya,” ujar Jekek dalam forum Focus Group Discussion atau FGD Penyusunan Rencana Pembangunan Infrastruktur Kawasan wisata WGM di Ruang Girimanik Sekretariat Daerah atau Setda, Wonogiri, Kamis (22/4/2021).

Jekek melanjutkan, selama 32 tahun berdiri, WDM juga tidak pernah mengalami perbaikan atau perubahan alih fungsi. Kondisi ini tidak hanya disesalkan oleh Jekek, tapi juga warga transmigran yang pulang kampung untuk menengok.

“Dari aspek sosiologis yang dirasakan masyarakat itu, kami meminta kepada Kementerian PUPR ada kebijakan khusus bagi Wonogiri,” kata Jekek.

Melalui proses revitalisasi yang dilakukan oleh Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Jekek berharap ikon Kabupaten Wonogiri tersebut dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama dalam hal pengentasan kemiskinan.

“Untuk itu, revitalisasi WGM harus menjadi ikonik dengan pengembangan berbagai potensi yang dapat meningkatkan pendapatan asli daerah dan peningkatan ekonomi warga,” kata Jekek.

Berdasarkan master plan sementara, setidaknya ada 46 program pembangunan pengembangan kawasan wisata yang berada pada enam titik. Titik pertama taman wisata 7,5 hektare, area perluasan 115 hektare, pulau-pulau lain, bukit joglo, bukit cenik, dan tiga bukit susu.

Adapun puluhan infrastruktur yang dibangun dalam rangka revitalisasi, di antaranya berupa penginapan, museum, area pemancingan, wahana air, dan fasilitas hiburan seperti landasan gantole dan camping ground.

Jekek mengaku, pihaknya optimistis jika pengelolaan WDM dapat mendongkrak pendapatan asli daerah.

Guna mencegah terjadinya konflik antara warga dan masyarakat, pihaknya akan mengimbau perangkat desa untuk menginformasikan proses revitalisasi di wilayah yang terdampak.

Jadi wisata sejarah

Sementara itu, Kepala Subdirektorat Perencanaan Teknis Direktorat Pengembangan Kawasan Permukiman Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian PUPR Kusuma Wardani, mengakui terenyuh mendengar penjelasan Jekek tentang sejarah berdirinya WGM.

Bagi Wardhani, kisah yang diungkap Jekek dapat menjadi nilai tambah untuk mempromosikan wisata baru nanti. Dengan demikian, sejarah bisa terus disampaikan kepada generasi penerus agar menghargai pengorbanan para leluhurnya.

“Cerita sejarah ini bisa diangkat sehingga siapa pun itu anak, cucu hingga buyut dapat mengetahui sejarah berdirinya Waduk Gajah Mungkur,” ujar Wardhani.

Meski dilakukan revitalisasi, bentang alam seluas 10 hektare tetap dilestarikan dan dipertahankan. Bangunan infrastruktur pun akan disesuaikan dengan kondisi alam dan kebutuhan pengembangan wisata di WGM.

Setelah selesai dibangun, Wardhani menyatakan bahwa aset infrastruktur yang dibangun di WGM diserahkan kepada Pemkab Wonogiri.

“Setelah selesai, seluruh pengelolaannya diserahkan kepada pemerintah daerah,” kata Wardhani.

Wardhani mengatakan, proses pembangunan akan dilakukan setelah konsultan perencana menyelesaikan perencanaan infrastruktur yang dibangun di WGM.

Besaran anggaran pembangunan pun akan disesuaikan dengan kondisi keuangan negera lantaran saat ini pandemi Covid-19 belum selesai.

Untuk anggaran sendiri, Wardhani mengungkapkan bahwa dana pembangunan berasal dari APBN, APBD, dan juga pendanaan dari pihak swasta.

Ia memprediksi, proyek revitalisasi WGM akan dilelang pada Juli hingga Agustus 2021. Pelaksanaan fisik berupa pembangunan wisata seluas 10 hektare dan pengembangan ratusan hektare juga akan dilakukan secara bertahap dengan estimasi dua tahun penyelesaian.

“Pada 2021-2022, kami (akan) mengutamakan pembangunan kawasan wisata yang lebih memberikan dampak peningkatan ekonomi,” jelas Wardhani.(Admin/Sumber : Kompas.Com)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Utama