oleh

Kasus Covid-19 di Wonogiri Turun Drastis, Bupati Jekek Minta Warga Tetap Disiplin Prokes

Wonogiri – Bupati Wonogiri Joko Sutopo berharap penurunan kasus Covid-19 secara drastis yang terjadi di wilayahnya dapat memunculkan kesadaran pikiran, sikap, dan kedisiplinan warga untuk terus menerapkan protokol kesehatan (prokes).

“Dari pola pikir yang sadar maka akan melahirkan kedisiplinan dalam menerapkan prokes. Dengan begitu, kami bisa menyajikan data dari pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) level empat ke level tiga,” ujar bupati yang biasa disapa Jekek itu dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Selasa (17/8/2021).

Tak hanya penurunan level PPKM, kedisiplinan penerapan prokes juga diharapkan dapat menekan angka kematian dan penularan Covid-19 di Kabupaten Wonogiri.

Menurut Jekek, hal tersebut merupakan akumulasi dari seluruh upaya yang harus didukung optimisme masyarakat. Salah satunya dengan saling menjaga dan mengingatkan pentingnya penerapan prokes.

Ia menyebut, tingginya kesadaran warga dalam menerapkan prokes membuat penularan Covid-19 di wilayahnya menurun drastis.

Terbukti, kasus positif Covid-19 di Kabupaten Wonogiri mengalami penurunan saat dilakukan tracing (pelacakan) dan testing (pengujian) secara acak di beberapa pasar tradisional yang berada di kecamatan-kecamatan besar.

“Dari aspek tracing dan testing, hasil persentase warga positif Covid-19 hanya tujuh persen. Sebelumnya, persentase warga positif Covid-19 mencapai sekitar 52 persen, kemudian berangsur-angsur mulai menurun,” kata Jekek.

Jekek memastikan, penurunan kasus Covid-19 di Wonogiri terjadi karena warga sudah bisa menerapkan disiplin prokes. Disiplin yang dimaksud, seperti menghindari kerumunan dan menekan mobilitas yang berpotensi terhadap media penularan.

Terlebih, sebut dia, sejak adanya aturan tegas dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wonogiri untuk menutup tempat wisata dan pelarangan gelaran hajatan bagi warga.

“Hasilnya pasti akan terakumulasi, yaitu menurunkan jumlah kasus Covid-19. Kalau tidak tegas dari awal, maka kami akan memiliki bibit dan potensi terjadinya klaster baru,” ujar Jekek.

Ia menilai, ketegasan pihaknya dalam melarang hajatan dan menutup tempat wisata memberikan kesadaran bagi masyarakat tentang arti pentingnya disiplin prokes.

Dengan aturan tersebut, kata Jekek, pemutusan mata rantai penularan Covid-19 dapat dilakukan secara optimal.

 “Potensi-potensi yang menjadi endemi baru bisa kami minimalkan. Hal ini terbukti setelah kami lakukan uji sampling secara acak di pasar-pasar tradisional menghasilkan persentase kasus infeksius rendah dan sangat menggembirakan,” jelas Jekek.

Pasien isolasi ikut berkurang drastis

Tak hanya tracing dan testing acak, Jekek menjelaskan, penurunan angka penularan Covid-19 juga terlihat pada rendahnya jumlah pasien isolasi di gedung isolasi terpadu (isoter).

Ia mengaku, saat ini hanya tinggal delapan warga yang menjalani isoter di Gedung Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Wonogiri. Gedung isoter ini mampu menampung hingga 200 orang.

“Jumlah pasien isolasi mandiri (isoman) di Wonogiri cukup minim, hanya tinggal beberapa orang di Slogohimo. Mayoritas dari pasien isoman adalah tenaga kesehatan (nakes),” ujar Jekek.

Menurutnya, isoman para nakes tidak perlu digeser ke isoter. Sebab, mereka paham tentang apa yang dilakukan dan tidak boleh dikerjakan selama menjalani isolasi.

Bahkan kebijakan baru dari pemerintah pusat menyatakan hanya warga sipil yang didorong ke isoter. Hal ini harus dilakukan apabila seseorang terdeteksi dengan gejala ikutan dan lanjutan dalam kondisi saturasi rendah.

“Atas kebijakan tersebut, kami mengoptimalkan kader, relawan, dan satuan tugas (satgas) untuk melakukan monitoring dan deteksi lebih dini dengan properti serta peralatan dasar seperti oksimeter dan thermogun,” imbuh Jekek.(Admin/Sumber : Kompas.Com)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Utama